Assalamu'alaikum... Semoga ikatan ukhuwah dapat terjalin di sini. Meski raga tak saling bertemu, tapi hati saling terpaut..
RSS

Dukung dan Fasilitasi Bahagiamu,, IBU!!



Kebahagiaan yang telah ditemukan oleh seorang ibu, ternyata membutuhkan dukungan juga fasilitas. Bagaimana seorang ibu bisa benar-benar melakukan hal-hal yang membuatnya bahagia tanpa ada yang terbengkalai sebagai tugas seorang ibu dan tanpa ada yang merasa terabaikan dengan kebahagiaan yang ibu ciptakan itu. Maka penting kiranya seorang ibu belajar tentang metakognisi.

Apa itu Metakognisi?

Pandu Kartika Putra, seorang Direktur Eksekutif Digital Jabar Service menjelaskan bahwa  metakognisi adalah sebuah cara seseorang untuk mengetahui serta lebih aware dengan proses belajarnya. Fungsi dari mempelajari metakognisi ini adalah supaya kita bisa mengakselerasi proses belajar kita. Kita tahu apa saja yang perlu diperbaiki dan ketrampilan apa saja yang perlu ditambahkan sebagai penunjang dari tujuan yang ingin kita capai.

Metakognisi ini erat kaitannya dengan kita belajar menjadi pembelajar mandiri karena kita belajar memahami diri sendiri. Mas Pandu menyebutkan ada 7 kunci Pembelajar Mandiri, yaitu:
1.      Mengambil Inisiatif
2.      Belajar dengan atau tanpa bantuan orang lain
3.      Mendiagnosa kebutuhan belajar
4.      Memformulasikan tujuan belajar
5.      Mengidentifikasi kebutuhan sumber daya untuk belajar
6.      Memilih dan mengimplementasikan strategi belajar
7.      Mengevaluasi hasil belajar

Teruslah belajar ibu…
Karena dunia bergerak dengan begitu cepatnya, maka jangan menunggu yakin dulu jika kita ingin suatu hal. Lakukan saja!!! Mas Pandu mengatakan bahwa tidak mengapai melakukan “Failed Fast” (gagal dengan cepat) karna sejatinya kegagalan itu membuat kita semakin banyak mencoba dan pada akhirnya kita akan semakin cepat tahu cara yang tepat. Membangun rasa percaya diri pada diri kita sendiri, apakah kita merasa nyaman dengan cara kita belajar atau tidak? Itu yang akan menjadi landasan kita memilih yang terbaik untuk kita. Dan pada akhirnya nanti, kita pun akan mampu memahami cara belajar anak kita serta tidak memaksakan sesuai dengan diri kita.

Setelah kemaren mengidentifikasi telur-telur hijau untuk menemukan kegiatan yang ibu suka dan bisa. Kini si telur-telur hijau itu akan bertransformasi menjadi telur-telur merah. Kebahagiaan itu perlu dukungan dan fasilitas. Apakah perlu koreksi ulang (kebahagiaan itu juga bisa membahagiakan orang-orang sekitar) atau kita membutuhkan keterampilan lebih untuk membuatnya menjadi kebahagiaan yang sesungguhnya ibu butuhkan.
Untuk mendukung itu semua, ternyata yang saya sangat butuhkan untuk menunjang kebahagiaan yang saya ciptakan tersebut antara lain:
1.    Time Management
Dari semua ketrampilan yang membuat saya bahagia, semua terbentur dengan waktu yang terkadang kurang bisa ter-manage dengan tepat. Jadi, saya harus mencari ilmu tentang time management yang tepat saya terapkan dalam kehidupan saya sehingga semua bisa berjalan dengan lancar tanpa mengabaikan hak dan kewajiban yang lainnya.

2.    Skill mendengarkan kajian sambil momong
Saya rasa ini sangat saya butuhkan karena ketika mendengarkan kajian, seringkali ter-distract oleh anak yang kadang minta ini itu atau mengajak bermain. Cara apa yang dapat saya lakukan untuk dapat mengimbangi ketika mendengarkan kajian sambil mengasuh anak yang juga turut serta. (kajian secara online maupun offline)

3.    Food-Prep Skill
Ini sebenarnya terkait juga dengan time management. Ketika kita mampu melakukan food-prep dengan baik, maka kemungkinan waktu kita untuk menyiapkan segala sesuatu kebutuhan memasak jadi lebih cepat dan praktis.

4.    Skill Memasak dengan cepat
Skill ini saya butuhkan ketika harus melakukan kewajiban lain tetapi saya masih bisa enjoy “bermain” di dapur. Walau mungkin akan singkat sekali berada di dapur tetapi saya akan happy dan bergegas melakukan “hal bahagia” selanjutnya. Atau skill ini saya butuhkan ketika anak kedua sudah lahir dan membutuhkan ibu yang cepat tanggap ketika mereka mencari.

5.    Ilmu menabung yang cepat dan tepat
Ilmu ini sebagai penunjang ketika kami ingin family time dan memerlukan tempat yang “luar biasa” alias di luar kebiasaan, maka kami membutuhkan anggaran tanpa mengutak atik anggaran belanja bulanan kami.. hehehe

Mungkin 5 poin itu yang Ummi Nayy anggap penting dan mendesak untuk dipelajari sebagai penunjang lancarnya aktivitas yang membahagiakan sebagai Ibu dan insyaAllah bisa membahagiakan pula untuk suami dan anak-anak. ^_^


0 komentar

Ciptakan Bahagiamu, IBU !!!


Keluarga yang bahagia bersumber dari jantung keluarga yang bahagia juga yaitu IBU. Ketika seorang ibu bisa bahagia dalam dirinya maka akan terpancar ketika membersamai anak-anak ataupun suaminya. Kebahagiaan masing-masing ibu akan berbeda-beda. Bukan hanya ketika “me time” seperti ke salon, shopping, hang out bareng teman-teman yang terkadang mungkin bagi sebagian ibu malah membuat tidak bahagia karena masih terpikir anak di rumah. Atau di sisi lain ada seorang ibu yang merasa bahagia ketika suaminya ikut andil dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci baju, menyetrika, melipat baju, mencuci piring, nyapu ataupun ngepel. Banyak cara untuk ibu bahaga sesuai versinya.
Namun, karena menjamurnya media digital saat ini membuat para ibu terkadang menokohkan seseorang yang dianggapnya perfect ketika menjadi ibu sehingga segala cara “bahagia” yang diterapkannya mutlak harus ia ikuti juga. Ia akan cenderung meniru segala kebahagiaan yang sang tokoh itu posting di media social. Tanpa ia melihat latar belakang keluarganya sendiri ataupun kenyamanannya ketika melakukan hal yang sama dengan sang tokoh. Apakah benar-benar bahagia? Atau hanya aku harus melakukannya agar aku bisa sebahagia dia?
Kadang hal itu yang membuat kita lupa jika bahagia itu benar-benar sederhana dan hanya kita saja yang bisa mencari tahu hal apa yang sebenarnya membuat kita benar-benar bahagia. Bu Septi (Founder IIP) menuturkan bahwa suatu hal yang membuat kita bahagia bisa kita ujikan dengan melakukannya beberapa kali. Apakah ketika kita melakukan hal itu satu kali, kita merasa bahagia? Bagaimana jika kita ulangi kedua kalinya, apakah kita tetap merasa kebahagiaan itu? Lalu bagaimana jika kita lakukan lagi lagi dan lagi… apakah kita menjadi semakin bahagia?
Temukan bahagiamu sendiri ibu… agar kau temukan kebahagiaanmu untuk selanjutnya kau dapat pula menyalurkan energi bahagia itu untuk anak-anak dan suamimu. Kita sendiri yang akan memutuskan akan bahagia atau tidak. Itulah yang nantinya akan kita jadikan kekuatan untuk menjadi manajer keluarga yang cekatan.
Ternyata setelah emak lihat dari draft aktivitas yang sudah dipilah-pilah, sumber kebahagiaan emak sesederhana melakukan kegiatan rumahan sehari-hari. Seperti memasak, menjahit, crafting, ikut kajian, dan kumpul-kumpul dengan anak-anak dan suami. Benar-benar sederhana dan bisa mejadi charge kebahagiaan kaann..

Dan Alhamdulillah aktivitas-aktivitas yang emak rasakan sebagai salah satu sumber kebahagiaan itu, beberapa Allah lebihkan pula menjadi hobi yang dibayar. MasyaaAllaah…   

#janganlupabahagia
#jurnalminggu1
#materi1
#kelastelur
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional
0 komentar

Ketika Anak Bertanya Tentang Seksualitas

Dulu ketika masih kecil mungkin kita (saya ding..) pernah bertanya seputaran seksualitas dan mendapat jawaban "besok klo kamu uda gede juga tau", atau "hush.. ga boleh tanya gitu,, saruu"

Mungkin beda anak sekarang dan anak dulu ya.. saya setelah dibilang gitu ya terus klakep diem. Ga tanya lagi dan nggak terlalu kepo juga. Tapi anak jaman now itu kritis-kritis mak. Kita pun juga harus belajar kritis juga untuk menanggapinya dengan benar karena media sekarang lebih mudah dijangkau anak. Salah informasi yang mereka dapat, bisa salah penafsiran juga dan berakibat fatal pada pengaplikasiannya. Dampingi anak untuk menyelesaikan rasa ingin tahunya itu sesuai dengan usia mereka. Jika belum menemukan jawaban seketika itu juga, mintalah waktu kepada anak untuk mencari jawaban terlebih dahulu. 


Berikut pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan anak (terima kasih PG 10 atas pencerahannya):
https://drive.google.com/file/d/1R_04ZfziFVYi1PbnKM06eJGGVXe-qtTu/view?usp=sharing 0 komentar

Review: Tips Mencegah Terjadinya Kekerasan Seksual Pada Anak

Dari artikel yang saya baca, membangun komunikasi dengan anak itu wajib. Menjadi bahu yang nyaman ketika anak penat, menjadi teman curhat ketika ia ingin meluapkan segala gundahnya, dan menjadi guru tanpa terkesan mengguruinya. 

Dengan membangun komunikasi yang produktif, kita akan mudah memasukkan nilai-nilai, aturan-aturan, bahkan membicarakan tentang hal yang bersifat sensitif. 

Anak sangat rawan terkena pelecehan seksual karena mereka dianggap manusia yang lemah dan belum tahu apa-apa. Sebagai orangtua, kita harus terus belajar untuk memberikan bekal anak-anak menyongsong masa depannya. 

Agama menjadi landasan utamanya... Bismillah... 

Tips lengkapnya bisa dilihat disini:
0 komentar

Penyimpangan Seksualitas

Saya speechless pada bahasan ini. Selama ini yang saya tahu penyimpangan seksual itu baru sekadar pedofillia dan LGBT saja. Ternyata lebih dari itu. Untuk lebih jelasnya, saya sertakan link dari PG 8 yang presentasi tadi di grup Bunda Sayang. 

Kali ini, saya sertakan juga diskusi yang sangat berisi dari PG 8 dan teman2 Bunda Sayang hari ini (walaupun hari ini belum bisa bergabung karena si anak jealous ketika melihat emaknya pegang HP). Ini diskusi yang luar biasa hari iniii... 

Pertanyaan untuk Peer Group 8 dari Mbak Giska :

Bagaimana pendapat teman2 PG 8 tentang korelasi pakaian terhadap kemungkinan menjadi korban pelecehan, karna kalo yg saya sering sy baca2 kok korban yg pakaiannya sopan bahkan berhijab masih bs jd korban pelecehan, terutama angkutan umum. Lalu bagaimana pencegahannya jika kita terpaksa tdk bersama anak2, misal saat mereka sekolah, dll.

Pada beberapa kasus, saat terjadi pelecehan, kadangkala korban seperti membatu, bukan tidak ingin melawan tapi tidak bisa jd hanya diam saja. Bagaimana solusinya supaya bisa melawan pelaku. Terimakasih


Jawaban PG 8:
💫Apa yang mendorong seseorang melakukan pelecehan seksual tidak bisa semata-mata hanya berdasarkan faktor eksternal seperti pakaian korban. Ada banyak faktor lainnya.

💫Tidak dipungkiri bahwa stimulasi visual spt pakaian minim yg menyebabkan terpaparnya bagian tubuh wanita memang merupakan salah satu pintu masuk terhadap bangkitnya hasrat seksual pada pria.

💫Namun ssorg juga dpt terbangkitkan hasrat seksualnya melalui imajinasi yang diulang2 diputar dalam pikirannya. Hal ini yg menyebabkan wanita berhijab pun dpt menjadi korban pelecehan. Pelaku mungkin berimajinasi mengenai bagaimana bentuk tubuh wanita berhijab tsb shg ia menjadi berhasrat.

💫Namun apa yg ada dlm diri orang lain tidak berada dalam kendali kita. Kita hanya dapat fokus mengupayakan apa yg dapat kita lakukan untuk mencegah agar pelecehan seksual tidak sampai kita atau anak2 kita alami.

💫Untuk anak2, salah satu caranya adalah spt yg telah dipaparkan oleh kelompok2 terdahulu. Kita mengedukasi anak2 mengenai hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain thd dirinya.

💫Hal ini tentu tidak dapat sekali jadi tapi merupakan proses yang terus menerus dilakukan utk mengecek pemahaman anak dan kesiapannya bila sewaktu2 hal terburuk terjadi.

💫Pada prinsipnya yg perlu dilakukan ortu adlh :
1⃣ Pastikan dan awasi lingkungan dgn siapa anak2 kita berinteraksi adalah lingkungan yg aman, baik lingkungan sekolah maupun rumah.

2⃣ Ajarkan mengenai sentuhan boleh dan tidak boleh. Lakukan dengan metode BRP mengenai hal ini. Kalau perlu miliki beberapa skenario untuk di role playkan dgn anak shg anak paham apa yang harus dilakukan pada situasi2 tsb.
Misalnya :
🍭skenario di angkot (anak plg sklh naik.angkot ni kira2 kalo udah baligh ya mak ?)
🍭skenario kalo ada temen yg ngeliatin video porno
🍭skenario kalo ada yg mangku anak smbl pegang2 bagian yg tdk boleh disentuh
🍭skenario abcdefgh dll

💫Mengenai mengapa ada korban yang membatu (jadi inget malin kundang hihihi), ini biasanya terjadi karena dalam situasi terkejut shg tidak siap dan jadi tidak tahu harus berbuat apa.

💫Seperti juga anak2 yg perlu BRP,  org dewasa pun perlu melakukan BRP atau Role Playnya thd kejadian2 spt itu.. Pelajari ilmu bela diri dasar utk keamanan wanita (banuak di youtube) lalu lakukan Role Play.

💫Ajak pasangan utk melakukan Role Play dgn berbagai skenario. Misalnya pasangan pura2 jadi yg mepet2 di angkot, atau pura2 jadi pelaku ekshibisionis yg akan melakukan pelecehan pada kita. Semakin sering dan bervariasi situasi yang kita role play kan, maka akan lebih siap kita dalam menghadapi situasi tsb di kehidupan sehari-hari karena kita pernah melatihnya. Analoginya sama dgn ketika kita latihan pada saat simulasi bencana. Kalau srg berlatih maka semakin gapah dan tahu apa yg perlu dilakukan.

💫Membawa perlengkapan keamanan seperti Pepper Spray atau semprotan merica juga dapat dijadikan alternatif utk menjaga keamanan diri kita. Tapi pastikan kita pernah melakukan role play dgn semprotan merica itu, jgn smp pas mau makai beneran malah maet atau tdk tahu cara memakainya. Blaen lak an...


💫Terakhir, biasakan berdoa memohon perlindungan dan keselamatan Allah setiap akan bepergian walau hanya ke Indomaret terdekat. Berdoa akan memunculkan rasa waspada pada diri kita sehingga lebih siap dgn berbagai kemungkinan yg akan terjadi.

Tambahan Mba Dian Ismi
Sedikit menambah kakakss...

Seumpama wanitanya memakai hijab dg pakaian ketat dan lekuk-lekuk tubuhnya tetap terlihat. Mata lelaki akan mudah menebak bagaimana bentuk tubuh aslinya. Lelaki sulit menghalangi imajinasi liarnya. Belum lagi mereka menggunakan banyak pernak-pernik yang mempercantik tampilannya.

Sejatinya hijab itu berfungsi sebagai penghalang kita berbuat kemaksiatan juga menghalangi pandangan penuh syahwat lelaki non mahram. Tapi ternyata banyak muslimah yang berhijab malah menjadi umpan untuk menarik perhatian lelaki hidung belang.
Bahkan mungkin ada beberapa lelaki ketika melihat wanita berhijab syar'i justru semakin penasaran dg kecantikan tubuhnya yg tertutup.

Nah...ini memang di luar kendali kita seperti yg dijabarkan diatas. Maka kitalah yg harus menjaga diri kita...

Pertanyaan dari Mba Tiea
mengedukasi jika ada yang ngasih liat video porno tu menyampaikannya gimana ya.
atau misalnya tu ngepasi mbak bedunduk si anak mendapati kita buka laptop yang kadang tu ada iklan gambar gambar "porno" nya menyampaikannya gimana yaa

Jawaban PG 8:
Ini bisa diajarkan ke anak setelah dia paham ttg aurat, apa yg boleh dan tidak boleh dilihat oleh orang lain dari dirinya dan dari tubuh orang lain olehnya.

Ajarkan aja konkritnya, berarti kalau ada yg ngasih liat video porno yg banyak aurat terlihat, adek boleh lihat gak ?

Insya Allah anak akan menjawab "tidak boleh".

Lalu kita bisa meneruskan dgn bertanya "lalu apa yang akan adek lakukan ?"


Untuk anak2 di usia 7 tahun ke atas biasanya dia sdh dpt diajak berpikir apa yg dapat dia lakukan di situasi itu dgn kita sbg pembimbingnya.


Tambahan Dari Mba Vaquentina
Pahami dan bedakan antara SSA dan LGBT ya buibu (ada di materi PG 8)

Yang namanya SSA itu adalah suatu spektrum. Jadi dalam diri setiap manusia ada kecenderungan itu tapi tergantung seberapa besar keparahannya dan apa yg dilakukan utk mengelolanya.

Karena itu sangat penting bagi orangtua untuk benar2 menjaga fitrah seksualitas anak2 dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga daya upaya.

Betapa banyak paparan yg mencoba mensosialisasikan jenis kelamin ketiga dan menanamkan bhw itu hal yg biasa. Betapa banyak media propaganda yg mencoba membuat kita menerima perkawinan sejenis dgn berbagai jargon spt "Cinta mengalahkan segalanya" "Cinta will find a way" dll. Tengok emoticon WA kita yg sdh bertabur propaganda LGBT. Tengok tontonan kita yg byk menampilkan pemuda2 melambai dan kiya tertawa2 melihatnya seperti terhibur.

Hati2 juga utk tidak membiarkan anak kita mainan make up dgn ayahnya sbg korban (mendandani ayahnya). Kalau dibiarkan maka akan masuk nilai dlm dirinya "laki2 bedakan m lipstikan itu biasa".

Ortu hadir menjalani peran seksualitasnya scr utuh. Ikuti segala yg sudah diajarkan dalam agama terkait aurat, pemisahan tempat tidur, tidak boleh tidur satu selimut dll. Insya Allah anak2 akan terjaga.


*🙏🏻🙏🏻🙏🏻 pura2nya semacam epilog

Ya Allah.. lindungilah kami dan anak keturunan kami dari kejahatan-kejahatan dunia, penyakit-penyakit yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Aamiin...
Link materi PG 8 (Penyimpangan Seksualitas)
https://drive.google.com/file/d/1olsrwpKAOy77klQcE3B_l6yIThG7ZJeK/view?usp=sharing 0 komentar

Menjaga Diri Dari Kejahatan Seksual

Pelecehan seksual merupakan bentuk dari kejahatan seksual yang bisa dalam bentuk fisik atau nonfisik yang mengarah pada organ seksual dan membuat ketidaknyamanan korban. Bentuk pelecehan seksual pun bermacam-macam dari secara verbal yang mengarah ke seks/ porno maupun dalam tindakan nyata dengan sentuhan yang melanggar batasan aurat. 

Bentuk Pelecehan Seksual Pada Anak
- meminta anak untuk melakukan aktivitas seksual
- memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin kepada anak
- menampilkan pornografi untuk anak
- melakukan hubungan seksual terhadap anak
- kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali alasan medis)
- melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali alasan medis)
- menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak

Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual
Menurut Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait:
- Berpotensi menjadi KORBAN, ketika terbiasa berbaju ketat, hiperaktif, dan cenderung penakut.
- Berpotensi menjadi PELAKU, ketika meniru adegan di TV, video game, film, atau bahkan melihat orangtuanya.
- Kurangnya pengawasan dan perlindungan orangtua
- Adanya pencetus dari korban dan pelaku, misalnya sering dipangku, dipeluk, dicium tanpa mau menolak.

Cara Mencegah Pelecehan Seksual
- Ajarkan kepada anak tentang bagian tubuh pribadi (aurat)
- Ajarkan anak untuk bisa terbuka kepada orangtua dengan apapun yang dialaminya
- Pantau aktivitas anak
- Ajarkan anak untuk waspada sekalipun dengan orang terdekat
- Ajarkan kepada anak untuk dapat menghalau tindakan pelecehan seksual
- Percaya terhadap apa yang dikatakan anak
- Menanamkan rasa malu ketika terlihat auratnya
- Izin memasuki kamar orangtua di waktu aurat: sebelum Shubuh, siang hari ketika aurat banyak terbuka, dan setelah Isya
- Mengontrol gadget, bacaan, dan tontonan


*Review PG 7, Bunda Sayang, IIP
*Fitrah Seksualitas Anak
0 komentar

Review: Cara Ajarkan Anak Melindungi Diri Dari Kekerasan Seksual

Kita perlu membekali anak untuk bergaul dengan siapapun. Ngerinya pergaulan zaman sekarang, seharusnya menjadi warning untuk diri kita lebih siaga memberikan protect yang tepat untuk anak-anak. Tidak selamanya kita bisa mendampingi anak kemana mereka pergi. Tidak selamanya kita bisa mengawasi yang dilakukannya. Akan ada masa ketika mereka mengembangkan segala aspek fitrahnya di lingkungan masyarakat. 

Menurut saya bekal yang paling utama adalah, tumbuhkan cinta yang penuh kepada Allah SWT, tumbuhkan keyakinan bahwa segala yang dilakukan akan Allah saksikan, dan tumbuhkan pula rasa "ingat perasaan orangtua". Itu salah satu untuk membentengi diri berbuat yang tidak baik. Lalu bagaimana jika justru hal negatif itu muncul dari lingkungannya?

Anak-anak rawan mendapatkan pelecehan seksual dari orang tidak dikenal maupun orang yang dikenal. Pencegahan dan pengajaran adalah tanggung jawab orangtua. Berikut beberapa yang dapat dilakukan orangtua sebagai ikhtiar mencegah terjadinya pelecehan seksual terhadap anak menurut artikel Hello Sehat:

  1. Ajarkan Anak Tentang Anatomi Tubuhnya
    Kenalkan nama bagian tubuh anak dengan nama sesungguhnya bukan nama kiasan. Misal itu namanya "vagina" yang kenalkan dengan nama vagina, "penis" yang kenalkan dengan nama "penis". Supaya anak tidak bingung dengan penyebutan anggota tubuhnya.
  2. Ajarkan Anak Mengenai Batasan
    Ajarkan anak-anak bagian mana saja yang tidak boleh dilihat dan disentuh sama sekali oleh orang lain, kecuali dalam hal tertentu misalnya pemeriksaan oleh tenaga medis dan harus didampingi oleh kita orangtuanya. Dalam Islam pun sebenarnya sudah diberikan aturan tentang hal ini, yaitu mengenai aurat. Bagian mana saja yang harus ditutup dan siapa saja yang halal ketika melihatnya, semua sudah diatur dalam Islam. MasyaAllah betapa Islam sangat melindungi pemeluknya dari korban kejahatan seksual maupun sebagai pelakunya (yaitu dengan menundukkan pandangan).
  3. Membedakan Sentuhan Yang Baik dan Tidak 
    Mungkin jika saya menjelaskan dengan bahasa saya, sentuhan baik bisa diartikan dengan menyentuh secara wajar dan tidak keluar dari batasan-batasan aurat. Begitu pun sebaliknya dengan sentuhan yang tidak baik. Ketika semua mulai dilanggar, mungkin itu menjadi indikasi sebuah sentuhan yang tidak baik dan anak harus berontak.
  4. Mana Yang Termasuk Pelecehan Seksual
    Ajarkan kepada anak agar orang lain tidak boleh menyentuh bagian-bagian yang menjadi aurat. Pelecehan seksual bisa terjadi meski anak berpakaian lengkap, maka dari itu jelaskan bahwa semua bagian yang tertutup, tidak boleh disentuh oleh oranglain.
  5. Ajarkan Anak Berkata TIDAK
    Anak berhak menolak ketika ada orang yang hendak memegang yang menjadi aurat mereka. Mungkin sentuhan yang dilakukan tidak menyakitkan tetapi jika sudah aurat yang menjadi sasaran, maka itu sudah merupakan pelecehan seksual. Dan ajarkan anak untuk tegas berkata TIDAK kepada siapapun yang melanggarnya. Dan jadilah tempat curhat anak-anak untuk menceritakan apa saya yang dia alami, berikan kenyamanan untuk mereka bercerita.
  6. Selalu "Dampingi" Anak Di Kehidupannya
    Bangunlah komunikasi produktif dengan anak. Jadilah tempat curhat yang nyaman untuk anak, agar anak pun tidak sungkan untuk menceritakan semua yang mereka alami. Serta berikan "quality time" supaya tangki kasih sayangnya full, sehingga mereka tidak lagi mencari kasih sayang dari luar.
Betapa, menjadi orangtua itu tanggung jawabnya besar. Bersungguh-sungguh lah karena setiap peluh yang kita teteskan untuk memikirkan anak kita, InsyaAllah akan ada nilai ibadah di hadapan Allah. Itulah Kunci Surga untuk para orangtua.. (Niven, 2019)



Sumber Review:
https://hellosehat.com/parenting/tips-parenting/ajarkan-anak-lindungi-diri-dari-kekerasan-seksual/ 0 komentar

Review : Benarkah Anak Kita Sudah Aqil Baligh?

Saya masih tergelitik untuk mencari artikel tentang masa muda (pemuda) yang dalam Islam sebenarnya tidak pernah mengalami kegalauan. Justru sebaliknya, masa muda adalah masa dengan gejolak semangat yang membara untuk siap mengemban sebuah tanggung jawab. 

Dan sampai akhirnya, saya temukan artikel yang ditulis oleh ust. Mohammad Faudzil Adhim.
Beliau menyampaikan bahwa statement yang menyatakan bahwa masa muda (remaja) itu adalah masa krisisnya identitas dan masa guncangnya pribadi, ternyata berawal dari buku tulisan Granville Stanley Hall (psikolog Zionis). Mungkin inilah salah satu cara zionis untuk menghancurkan generasi-generasi Rabbani. Naudzubillahi min dzalik... 

Lalu ketika kita sebagai orang dewasa juga ikut memaklumkan perilaku negatif dari para remaja saat ini, secara tidak langsung kita pun meng-aamiin-kan teori palsu dari psikolog Zionis tersebut. Jangan pernah anggap lumrah perilaku kenakalan remaja saat ini. Luruskan jika perilaku mereka ada (ada yaa,, bukan selalu) yang menyimpang. Jangan berdalih, mereka sedang mencari jati diri karena jati diri seorang muslim itu sudah jelas di dalam Al-Qur'an, tidak perlu dicari lagi, tinggal dikaji dan tanyakan pada ahlinya. Dan kita sebagai orangtua, dukung dan fasilitasi mereka untuk belajar. 

Saya pikir, kelak jika semua pemuda mampu untuk memahami jati dirinya dalam Al-Qur'an, insyaAllah tidak akan ada lagi seks bebas, seks sebelum pernikahan, pedofillia, penyimpangan seks, homo, lesbian, tawuran antar anak sekolah, premanisme, dll yang selama ini didalihkan karena "kenalakan anak remaja yang sedang mencari jati diri". 

Maka, salah satu tugas penting kita sebagai orangtua adalah mempersiapkan anak-anak kita mampu menjadi mukallaf begitu mereka mendapati tanda-tandanya. Salah satu yang harus melekat dari seorang yang mukallaf adalah akal telah sampai (Aqil Baligh). Dan kematangan akal ini seharusnya terjadi beriringan dengan kematangan seksual pertama kali yang ditandai dengan haid untuk perempuan dan mimpi basah untuk laki-laki. Diharapkan sebelum kematangan seksual ini datang, seharusnya anak-anak kita telah menjadi mumayyiz di usia 6 atau 7 tahun. Inilah masa ketika anak-anak mulai kita kenalkan dan ajari tentang kewajibab beribadah. 

Kemampuan untuk membedakan baik buruk serta benar salah dengan akalnya (tamyiz) perlu ditumbuhkan dan dibangun secara sungguh-sungguh oleh orangtua dan pendidiknya. Selain itu, arah hidupnya perlu kita bangun. Mereka harus mempunyai keyakinan yang akan membangkitkan untuk dapat mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari (idealisme).

Anak kita adalah aset syafa'at untuk kita di kehidupan yang abadi. Dampingi mereka mencapai fitrahnya secara baik dengan ilmu-ilmu Allah dan ajaran-ajaran Rasulullah yang begitu sempurna. Jadikan Al-Qur'an sebagai rujukan untuk mendidik anak-anak kita. (Niven, 2019)


Sumber Review:

0 komentar

Pentingnya Aqil Baligh Secara Bersamaan

Aqil: kondisi tercapainya kedewasaan psikologis, sosial, finansial, serta kemampuan memikul tanggung jawab syari'ah

Baligh: kodisi tercapainya kedewasaan biologis dengan kematangan alat reproduksi (14-16 tahun). 
Pada laki-laki ditandai mimpi basah.
Pada perempuan ditandai dengan menstruasi. 


Permasalahan Saat Ini
Usia baligh lebih cepat datang yaitu rentang usia 8-14 tahun, sedangkan aqil baru muncul pada usia 22-24 tahun. Hal ini kemudian memunculkan istilah "remaja" yang identik dengan masa-masa "galau" dan "kenakalan", yang sebenarnya tidak ada di dalam Islam. Islam menyebutkan bahwa masa muda adalah masa-masa produktif dalam berkarya, sehingga Bung Karno pun mengatakan, "Berikan aku 10 pemuda, maka akan aku goncangkan dunia." Berarti masa muda/ remaja adalah masa yang sebenarnya sangat produktif dalam pemikiran.


Akibat Aqil Baligh Yang Tidak Bersamaan 
  • Timbul permasalahan seksual, seperti pornografi, pedofilia, seks pranikah, seks bebas, dll
  • Ketidakmampuan memikul tanggung jawab

Faktor Penyebab Baligh lebih cepat datang dari Aqil
  1. Faktor Sosial
    - Anak dengan keluarga bermasalah (broken home)
    - Lingkungan sosial/ keluarga yang permissif terhadap hal yang bersifat seksual
    - Media massa dan media sosial yang mengekspose seksualitas
  2. Faktor Nutrisi
    - Obesitas
    - Konsumsi hewan yang disuntik hormon (hipotesa)
  3. Zat Kontaminan

Penyebab Tertundanya Aqil 
  • Orangtua yang ingin segera mengambil alih masalah yang dihadapi anaknya. Seharusnya, orangtua mendampingi serta mengarahkan anak untuk menyelesaikan masalahnya supaya anak terlatih untuk menggunakan akal dan pikirannya.  
  • Kurangnya pendidikan keterampilan  hidup
  • Sistem sekolah yang berorientasi pada hard skills daripada soft skills anak. 

Beberapa Usaha Supaya Aqil Datang Bersamaan Dengan Baligh
  • Perhatikan asupan makanan, gunakan pola gizi seimbang
  • Mengajarkan etika masuk kamar orangtua sejak usia tamyiz (7-10 tahun) (QS. An Nuur: 58-59)
  • Memisahkan tempat tidur anak pada usia 10 tahun dan larangan tidur dalam satu selimut
  • Mengajarkan etika melihat lawan jenis maupun sejenis, dan menjelaskan batas-batas aurat yang boleh dan tidak boleh dilihat/ diperlihatkkan. 
  • Memperkuat pendidikan agama di dalam keluarga dan berikan keteladanan dari orangtua
  • Pengawasan orangtua terhadap tontonan, pergaulan ,dan media sosial anak
  • Kembalikan peran ayah dalam pendidikan anak
  • Latih anak untuk dapat memberi keputusan dan menyelesaikan masalah secara bertanggung jawab

Semoga anak-anak kita terhindar dari semua yang menyebabkan Baligh datang mendahului Aqil. Sertakan selalu anak-anak kita dalam setiap doa-doa yang kita panjatkan karena hanya Allah yang akan menolong mereka. Tugas kita mendampingi fitrah-fitrahnya supaya tumbuh sesuai dengan aturan-aturanNya. 

*Review PG 5, Bunda Sayang, IIP
*Fitrah Seksualitas Anak

0 komentar

Ayah Sebagai Supply Ego

Hadirnya seorang ayah dalam pengasuhan anak salah satunya adalah sebagai pensuplai ego. Supply Ego ini memberikan kemampuan leadership bagi anak-anaknya, sedangkan ibu memberikan Supply Emphaty atau Followership. Kekurangan Supply Ego ketika masih kecil, bisa membuat anak mudah bimbang dan terbawa angin pergaulan. Anak akan susah untuk menolak hal negatif yang menghampiri kehidupan mereka.

Ayah memberi keteladanan yang berangkat dari fitrah keayahannya. Kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya menjadi imam ketika sholat (terutama anak laki-laki), ketika akan liburan berikan anak opsi untuk memilih akan liburan kemana, memberikan teladan kebaikan kepada anak-anak, dll.

Hadirlah dalam setiap pengasuhan anak-anakmu wahai Ayah...
Karena bangunan yang kelak akan mereka dirikan...
Akan mengikuti pondasi yang kau ciptakan...
Maka, bangunlah pondasi itu dengan teladan-teladan yang kau berikan...
(Niven Ayu, 2019)

*Review Artikel
https://nakindonesia.wordpress.com/2017/05/01/kulwap-peran-ayah-dalam-pendidikan/

Referensi:



0 komentar

Pengaruh Media Digital Terhadap Fitrah Seksualitas





Era saat ini, hampir setiap hari kita menggunakan media digital. Kita pun harus mendidik dan membesarkan anak pada era ini. Tentu tantangannya berbeda dengan orangtua kita ketika mendidik kita pada masa lalu yang belum begitu menjamurnya media digital. Kita membutuhkan banyak ilmu untuk dapat merawat Fitrah Seksualitas Anak-anak kita pada masa media digital sekarang ini. Supaya anak dapat langsung belajar dari kedua orangtuanya dan orangtua pun dapat memfilter apa saja yang patut anak-anak lihat.

Media Digital bisa menjadi 2 mata pisau untuk anak-anak. Bisa menjadi hal yang positif ketika digunakan dengan pendampingan yang benar atau bisa menjadi hal yang negatif ketika orangtua lalai mengawasi anak untuk menggunakannya.

Dampak positif yang didapatkan anak yaitu:

  • Bisa menjadi sarana pendidikan 
  • Media komunikasi
  • Sumber informasi
  • Serta bisa menjadi hiburan

Dampak negatif yang didapatkan anak ketika tanpa pendampingan yang tepat:

  • Pornografi
  • Cyber Harasment
  • Cyber Bullying
  • Pubertas Dini


Lalu bagaimana orangtua harus mendampingi anak sesuai usianya?
  • Anak usia 0-2 tahun, tidak boleh terpapar gadget sama sekali. Anak pada usia ini sedang aktif-aktifnya untuk mengeksplor lingkungannya. Mereka berada pada tahap sensori (mengaktifkan segala inderanya). Kita sebagai orangtua hendaknya memberikan teladan yang baik untuk mereka, menyediakan banyak waktu untuk bermain bersama, mengajak mengenal lingkungan sekitar, mengajak untuk berkegiatan yang dapat merangsang aktifnya seluruh inderanya.
  • Anak usia 3-5 tahun, dibatasi maksimal hanya 1 jam sehari
  • Anak usia 6-18 tahun, dibatasi maksimal hanya 2 jam sehari



Bagaimana jika anak sudah terlanjur mengenal gadget?
  1. Membuat kesepakatan dengan anak mengenai durasi dan aturan menggunakan gadget
  2. Memberikan jadwal anak boleh mempergunakan gadget
  3. Perbanyak waktu bermain bersama anak yang menyenangkan baik indoor maupun outdoor misal dengan berenang, bermain air, ke taman, ke kebun binatang, dll
  4. Alihkan kegemaran anak dari gadget ke buku. Bacakan cerita, mendongeng, atau berjalan-jalan ke perpustakaan meski anak belum bisa membaca bahkan belum mengenal buku
  5. Hindari penggunaan gadget di depan anak karena bagaimanapun anak akan meniru apa yang diperlihatkan orang tua pada anak.



BE SMART PARENTS!!!
Memberikan benda canggih yang belum bisa dikelola dengan baik oleh anak dapat dikatakan kekerasan pada anak (abuse).
Sebagai orangtua, kita harus bisa menjadi teladan untuk anak-anak. Tanamkan nilai-nilai agama sebagai pondasi utama anak-anak, supaya mereka bisa membentengi diri dari serangan hal negatif yang muncul dari media digital ataupun pengaruh dari lingkungannya.

Adakalanya orangtua menjadi ORANGTUA yang penuh dengan teladan baik
Adakalanya orangtua menjadi TEMAN main anak-anak
Dan adakalanya juga orangtua menjadi SAHABAT ketika anak membutuhkan tempat cerita

*Review PG 6, Bunda Sayang, IIP
*Fitrah Seksualitas Anak



0 komentar

A Man Of Vission Mission


Peran Ayah Dalam Fitrah Seksualitas

Pada postingan Review yang berjudul “Peran Pengasuhan Ayah dalam Menumbuhkan Fitrah Seksualitas” ada 5 poin yang disebutkan. Kali ini saya mencoba untuk menjabarkan satu per satu dengan referensi dari beberapa sumber.

A Man Of Vission Mission
Seorang ayah diharapkan sebagai pembuat visi dan misi keluarga. Seperti halnya Nabi Ibrahim As yang membuat misi untuk keluarganya. Wujud keimanan seorang ayah akan nampak pada visi misi hidup yang dibentuknya baik disadari maupun tidak. Visi misi hidupnya ini akan terbawa ketika ia telah membangun sebuah sebuah keluarga. Ayah akan menemukan visi misi keluarganya,menunjukkan cara menempuhnya, dan menarasikan dengan penuh kehebatan. Visi misi keluarga ini kelak akan dilakukan bersama dengan anggota keluarganya dan bisa jadi diwariskan.

Keluarga itu ibarat sebuah sekolah dengan kepala sekolahnya adalah sang ayah. Ayah yang akan memutuskan akan seperti apa output dari anak-anak didiknya (istri dan anak-anaknya). Sebagai contoh ketika ayah ingin membangun sebuah keluarga yang dekat dengan nilai-nilai Al Qur’an di dalamnya. Misi-misi yang bisa dilakukan misalnya mendekatkan semua anggota keluarganya dengan Al Qur’an (mengaji, mendengarkan murottal Al-Qur’an, tilawah, hafalan Al Qur’an, dll), mengajak untuk mendatangi majelis-majelis Al-Qur’an, memberikan teladan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an,dll. Jadi jelas pelaksanaanya dan ketika mulai tidak on track, akan bisa diingatkan kembali dengan visi yang telah dibentuk dan disepakati.

Lalu bagaimana jika ada tipe suami yang lebih santai atau cenderung terkesan “pikir keri” (dipikirkan belakangan aja), jadi lebih seperti ikuti arah air mengalir saja. Air yang mengalir terkadang tidak selalu bermuara ke laut bukan? Kadang ada yang berakhir di parit, di sawah, bahkan hanya menggenang di comberan saja. Seperti itu juga sebuah keluarga, jika tanpa visi misi (jalani aja yang ada, padahal yang ada kadang nggak jalan ^^) akan seperti apa keluarga kita tidak akan jelas, ingin mempunyai anak-anak yang seperti apa pun mungkin tidak akan bisa diusahakan karena tidak tahu jalan apa yang harus ditempuh.

Seperti contoh dalam menjaga fitrah seksualitas, ketika sang ayah tidak mempunyai aturan bagaimana pergaulan anak-anaknya di luar rumah. Maka bisa jadi sang anak tidak mendapatkan nasihat tentang pergaulan dengan lawan jenis langsung dari orangtuanya, anak tidak tahu bersikap ketika dihadapkan dengan pelecehan seksual, anak tidak tahu bagaimana menolak ketika ada hal negatif yang datang menghampiri dari lingkungannya, anak tidak mampu memilah mana lingkungan yang baik untuknya, dll (naudzubillahi min dzalik).

Mungkin saja, sang suami bukannya tidak punya visi misi (khusnudzon) tetapi belum dikomunikasikan dengan anggota keluarganya. Cobalah sang istri untuk membuka komunikasi dengan bicara-bicara santai saja. Lakukan dengan komunikasi produktif.

Wahai ayah, kelak keluargamu akan kau pertanggungjawabkan di hadapan Sang Maha Kuasa

Referensi
*Diskusi dengan teman Bunsay Jogja-Solo

0 komentar

Peran Pengasuhan Ayah dalam Menumbuhkan Fitrah Seksualitas

Menjadi figur Ayah sebagai Sosok Lelaki Sejati dan Menjadi Panutan Bagi Anak

Setiap anak mendapatkan suplai maskulinitas dari sosok ayahnya, 75% untuk anak laki-laki dan 25% untuk anak perempuan. Betapa Al-Qur’an pun lebih banyak mencatat pengasuhan ayah terhadap anaknya seperti kisah Lukman yang mendidik anaknya, kisah Nabi Ibrahim as dengan anak kesayangannya Nabi Ismail as, ada pula kisah pengasuhan Nabi Yaqub dan Nabi Zakaria.

Jadi peran ayah itu tidak hanya sebatas memberi nafkah berupa harta saja tetapi juga harus memberikan waktu dan kasih sayang kepada anak-anaknya. Lebih jauh lagi, seorang ayah harus bisa menjadi role model untuk belajar tentang ketegasan dan kuat untuk menolak segala hal negative yang ditawarkan oleh lingkungannya.

#Bagi anak laki-laki, ayah adalah super hero pertamanya dan bisa menjadi idola pertama juga pada kehidupannya. Dia akan meniru gaya bertindak seperti sang ayah dan ketika ayah mampu menjadi teladannya, anak tidak akan mencari sosok yang akan dianutnya di luar rumah.

#Bagi anak perempuan, ayah adalah cinta pertamanya. Jika anak perempuan mendapat cinta yang full dari ayahnya, maka dia tidak akan mencari cinta lawan jenis di luar rumah sampai pada masa pernikahannya tiba.

Ada beberapa peran ayah yang harus dilakukan
1.       A Man of Vission Mission
2.       Pensuplai Ego
3.       Pembangun Struktur Berpikir dan Rasionalitas
4.       Pensuplai Maskulinitas
5.       Sang Raja Tega
6.       Penanggung Jawab Pendidikan
7.       Konsultan Pendidikan

Sumber:


*Review Kelompok 4 (Kelompok Sendiri), Bunda Sayang, IIP
*Fitrah Seksualitas Anak 0 komentar

Menjaga Fitrah Seksualitas Anak




Ayah dan bunda adalah figur yang harus ada sepanjang masa pendidik anak, sejak lahir hingga akil balig. Kehadiran ayah bunda penting untuk menjaga fitrah seksualitas anak.

Menurut Elly Risman, riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dan persoalan sosial lainnya akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, atau curiga pada hubungan dekat.

Kerja sama antara ayah dan ibu untuk menjaga fitrah seksualitas anak sangatlah penting untuk kehidupan anak selanjutnya dan perlunya bonding dari kedua orangtuanya untuk membuat anak lebih percaya diri lagi melangkah ke depan.

Wahai Ayah, bangunlah..
Tugas mendidik anak bukan hanya berada di pundak Sang Ibu..
Tapi engkaulah yang akan bertanggung jawab atas tingkah anak dan istrimu…
Engkaulah seharusnya Sang pemberi keputusan itu…
Dan istrimuu,, dia hanya sebagai tangan kananmu..
Itupun jika dia mampu…
Jika belum… bimbinglah dia..


Wahai Ibu…
Anakmu butuh kelembutan dari mu…
Dia butuh belajar tentang kasih sayang darimu…
Jangan lebih “gagah” dari suamimu…
Karena anakmu, akan mencontoh setiap tingkah lakumu…
Jadikanlah engkau teladan pertama untuk anak-anakmu…

*Review Artikel



0 komentar

Peran Orangtua Dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas Pada Anak






“Fitrah seksualitas harus tumbuh beriiringan dengan fitrah yang lainnya seperti fitrah keimanan, fitrah individualitas dan sosialitas, sehingga anak tidak mudah ditularkan penyimpangan seksual oleh lingkungannya.”

Pendidikan seksual memang amat sangat penting untuk diberikan sedini mungkin untuk menghindari pelecehan seksual, pergaulan bebas, penyimpangan seksual, dan penularan penyakit kelamin. Semua ini bisa dimulai dari dalam keluarga terutama dari kedua orangtuanya. Peran orangtua sangat penting dalam tumbuhnya fitrah ini. Pendampingan yang tepat akan dapat membawa anak memahami fitrahnya. Salah satu yang menjadi sorotan diskusi dengan PG 3 hari ini tentang menyikapi anak pada masa Aqil Baligh yang sedang mencari jati diri.

Bagaimana cara menghadapai anak pada usia baligh agar terhindar dari pergaulan bebas?
Seks di abad ini telah dikemas dalam berbagai media, mulai dari media cetak, audio visual, sampai kelompok eksklusif yang kegiatan utamanya adalah menyelenggarakan berbagai acara berbau seks. Abdullah Nashih Ulwan pernah menyatakan bahwa:
  sering kita mendengar anak-anak gadis yang bertahun-tahun berada dalam keadaan tidak suci karena mereka tidak mengetahui hukum berkaitan dengan haid dan jinabah. Sering kita mendengar anak laki-laki yang sudah mencapai usia remaja, dalam kondisi jinabah sering mereka tidak mengetahui hukum yang timbul akibat adanya mimpi dan jinabah. Mungkin saja anak gadis dan pemuda itu mendirikan shalat dalam keadaan jinabah, sementara keduanya mengira bahwa mereka telah menunaikan hak ketaatan dan ibadah.

Jika melihat penjelasan di atas, bahwa kejadian yang seharusnya tidak terjadi pada para remaja, jika orang tua, sejak dini telah mengenalkan hukum-hukum seputar pendidikan seks kepada para remajanya, sebelum memasuki usia baligh.
“Islam memberikan beban kepada kedua orang tua untuk berterus terang kepada anak dalam urusan yang penting seperti ini, sehingga mereka senantiasa memiliki kesadaran yang sempurna dan pemahaman yang mendalam berkenaan dengan segala yang terkait dengan kehidupan seksual dan kecenderungan birahi mereka. Serta segala implikasi kewajiban agama dan beban syari’at”.

Selain itu membangun bonding dengan anak sedini mungkin akan membuat benteng tersendiri untuk anak-anak. Bonding akan melahirkan trust, ketika sudah ada trust otomatis akan ada keterbukaan & komunikasi produktif bisa berjalan.

Dapat disimpulkan ketika menekan hawa nafsu dengan Fiqih praktis dan ikatan bonding akan melahirkan kepercayaan diri yang membangun keterbukaan dan komunikasi produktif.
Saya jadi berpikir dan membayangkan ketika Nayy nanti mulai mengalami tahap Baligh, apa saja yang harus saya bekalkan. Tidak akan pernah rela ketika Nayy salah dalam melangkah (naudzubillah). Dan mulai sekarang harus saya persiapkan semua untuk mendampingi Nayy memahami fitrah nya secara benar. Semoga ketika hari itu datang, Nayy sudah paham bagaimana menyikapinya dengan baik dan benar sehingga tidak salah ketika melangkah.

============================================================

Sebenarnya masih ada 2 bahasan lagi yang juga menarik pada diskusi kali ini. Berikut saya cuplikan jawaban dan tanggapannya yaa…

Pertanyaan 1 :
Bagaimana menyikapi kalau seandainya ada kluarga yang  karakter ibu lebih tegas, berani, lbih memimpin dalam keluarga di banding ayahnya yg lbh dominan sifat lembut dan penyayang nya. Peran dalam pembentukan karakter Seksualitasnya bagaimana ya mb? Apakah ada dampak seandainya peranan ayah ibu  itu tertukar sprti itu?

Tanggapan anggota PG3:
Pertama, idealnya peran maskulin ayah & feminim ibu harusnya diselaraskan sesuai fitrahnya dulu dgn tazkiyatun nafs, cleansing & healing sebelum menikah/memiliki anak
Namun bila kenyataannya peran ayah & ibu seperti dunia terbalik (ayah lembut & ibu tegas), maka bisa dijelaskan ke anak bahwa seorang perempuan itu memang adakalanya tegas. Toh setegas2nya seorang ibu pasti lebih dominan perasaannya, upayakan saat sedang bersama anak ini kita menjadi sosok yg penyayang. Sebenarnya ini bisa dilatih kog.
Dan seorang lelaki juga harus memiliki sifat lembut. Karena dalam tubuh lelaki, selain terdapat kromosom Y yg membawa sifat kelelakian, juga ada kromosom X yg membawa sifat lembut, penyayang

Kedua, orang tua harus memahami & membicarakan soal fitrah seksualitas ini secara kompak sebelum mengajari anak. Istilahnya, dimulai dari diri sendiri baru ke anak

Ketiga, selalu bilang ke anak bahwa seorang lelaki tu idealnya tegas, maskulin tetapi harus punya sifat lembut. Karena lembut itu beda dgn lembek. Dan kepada anak perempuan, jelaskan bahwa dalam diri seorang perempuan, Allah membekali sifat penyayang, keibuan & lembut. Tetapi ia harus tegas. Perlu digarisbawahi tebal2 juga bahwa tegas itu beda dgn galak

Keempat, pendidik itu tak cuma ayah & ibu, tetapi juga support system yg ada. Sambil membenahi diri, ayah & ibu juga bisa memberi contoh figur fitrah gender dgn cerita2 islami beserta seabrek sifat2nya, dan ketika si anak masuk ke sekolah, ia bisa juga mengenal guru2 yg berperan sesuai fitrahnya. Intinya, ayah & ibu harus terlebih dulu berbenah & terus berbenah demi keutuhan fitrah anak-anaknya.



Pertanyaan 2:
Gimana caranya biar anak tidak melakukan pacaran ? yang berujuang sex bebas.
Dorongan seorang anak pacaran itu apa sih mbak ? biar bisa di antisipasi dr sekarang
selain pendekatan agama.

Tanggapan PG3:
ara nya dengan memberikan nilai, norma, dan ajaran agama...dalam ajaran agama sudah sangat jelas mengatur pergaulan antara lawan jenis
Kita sbg ortu jg harus memberikan sex education yang tepat dan bersumber terpercaya...
Dan yg paling penting kita hrus memposisikan diri sbg TEMAN bagi anak remaja

Beberapa alasan remaja ingin pacaran diantara nya :
1. Sbg ajang percobaan atau memnuhi rasa penasaran
2. Pacaran dg dalih persaingan dg teman
3. Pacaran dg alasan agar sama dg teman2nya yg lain
4. Pacaran dg alasan ingin melakukan hub layaknya suami istri (naudzubillahimindzalik)
5. Pacaran sbg life style
6. Pacaran krn kasihan dg teman lawan jenis nya
7. Pacaran dg alasan harta
8. Pacaran krn ingin pamer pnya pacar cantik/ganteng
9. Pacaran dg alasan agar lbih semangat bljr

Ketertarikan terhadap lawan jenis termasuk fitrah seksualitas, sebuah kewajaran, terima dulu. Kalau tertarik dengan yang sejenis kan malah repot urusannya 🤭.

Komunikasi dua arah yang baik, ingatkan anak adab bergaul dengan lawan jenis, terus berikan pemahaman tanggungjawab moral dalam pergaulan.

Kalau menurut dr. Boyke, saat anak menyampaikan mengenai ketertarikan terhadap lawan jenis, maka Orangtua wajib untuk mengingatkan anak agar menambah tanggungjawab dirinya sebagai umat beragama. Bila muslim ya ajarkan untuk makin meningkatkan ibadah sholat misalnya, yang Nasrani dengan sering datang ke gereja dll.

Pada saat anak membawa topik ini, juga merupakan saat yang paling tepat bagi orangtua untuk menyampaikan tentang sex education secara lebih mendalam. Ajarkan mengenai sistem organ seks, proses kehamilan & persalinan, safe sex (bukan hanya perkara menghindari kehamilan namin lebih pada penyakit seksual).

Kuncinya, jadikan ayah sebagai "pacar" anak perempuannya dan ibu sebagai "kekasih" anak lelakinya.

*Review Kelompok 3, Bunda Sayang, IIP
*Fitrah Seksualitas Anak

0 komentar

Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini



Setiap manusia memiliki fitrah seksualitas, yang artinya sudah pasti Allah tanamkan pada setiap individu. Tugas kita sebagai orangtuanya adalah menjaga fitrah tersebut, supaya dapat bertumbuh sesuai dengan kodratnya. Seorang laki-laki yang akan menjadi sosok ke-ayah-an sejati  dan seorang perempuan yang akan menjadi sosok yang ke-ibu-an sejati.

Tahapan Pendidikan Seksualitas Pada Anak Usia Dini (menurut ust. Harry Santosa)
Fase 1 (0-2 tahun)
Pada tahapan ini anak didekatkan pada ibunya karena masih menyusui.  Ini timing untuk memperkuat fitrah-fitrah yang ada pada diri anak termasuk fitrah seksualitasnya.

Fase 2 (3-6 tahun)
Dekatkan anak dengan ayah dan ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional. Anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun (anak mengetahui apa gendernya sebagai laki-laki atau perempuan). Sehingga secara alamiah mereka paham menempatkan dirinya secara seksualitas (bagaimana harus berpakaian, bagaimana harus bersikap sebagai laki-laki atau perempuan, bagaimana cara bicara, dll). Maka diharapkan kedua orangtua “hadir” pada fase ini.

Fase 3 (7-10 tahun)
Dekatkan anak laki-laki pada ayah dan anak perempuan pada ibu. Pada usia ini anak mulai beralih dari egosentris ke sosiosentris. Dibutuhkan peran gender yang sejenis (laki-laki dengan ayahnya dan perempuan dengan ibunya) untuk memantabkan perannya sebagai laki-laki ataupun perempuan.

Fase 4 (11-14 tahun)
Dekatkan anak laki-laki pada ibu dan anak perempuan pada ayah. Pada masa ini, anak sudah mulai tertarik dengan lawan jenis dan Allah SWT mulai memunculkan peran reproduksi secara alamiah.
Anak laki-laki didekatkan dengan ibu supaya dia mampu untuk memahami pemikiran dan perasaan seorang perempuan (dalam hal ini ibu) dan kelak dia akan mampu untuk memahami istrinya dengan baik.
Anak perempuan didekatkan dengan ayahnya supaya dia mampu pula untuk memahami cara berpikir seorang laki-laki melalui ayahnya. Hingga kelak dia akan dapat memahami jalan berpikir seorang laki-laki. Wahai ayah, jadilah tempat curhat ternyaman untuk anak perempuanmu agar nanti sosok laki-laki ideal pertama baginya adalah dirimu!Sehingga tak akan pernah dia mencari kenyamanan pada laki-laki yang belum halal baginya…

Fase 5 (>15 tahun)
Masa Aqil Baligh. Anak sudah bukan lagi anak-anak tetapi anak sebagai mitra orangtua.
Tugas orangtua pada fase ini adalah mengantarkan anak untuk Aqil Baligh yang sempurna dan mencapai peran peradaban bukan hanya profesi namun juga berperan menjadi ayah sejati ataupun ibu sejati.

Contoh Penerapan Pendidikan Fitrah Seksualitas Pada Anak
-          Memberi nama yang baik untuk anak
-          Mengajarkan toilet training pada anak
-          Mengkhitan dan mendidik anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin
-          Menanamkan rasa malu pada anak
-          Melarang anak laki-laki menyerupai anak perempuan
-          Pengajaran pendidikan seksualitas melalui shalat
-          Memisahkan tempat tidur anak
-          Mengenalkan waktu berkunjung ke kamar orangtua
-          Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata
-          Memerintahkan anak perempuan berhijab ketika sudah baligh
            Mengajak diskusi tentang alat kelamin menggunakan peraga


Nayyara, anak pertama saya masih berusia 1 tahun 8 bulan dan masih berada pada tahap menyusui. Tapi sudah mulai dikenalkan dengan konsep laki-laki dan perempuan. Ketika dia melihat seseorang tidak berjilbab dan berambut pendek atau memakai peci, dia akan mengatakan bahwa itu “mas” dan ketika melihat seseorang berjilbab ataupun berambut panjang, dia akan mengatakan bahwa itu “mba”.  
Nayyara juga mulai paham jika Ummi tidak akan pernah  mau diajak keluar rumah ketika Ummi tidak menggunakan jilbab makanya dia akan mengajak Abi atau Akung ketika Nayyara ingin jalan-jalan keluar rumah dan tahu Ummi sedang tidak berjilbab. Dia pun mulai menerapkan pada dirinya, ketika Abi Ummi berkata jika akan pergi, dia akan otomatis mencari jilbab atau bilang “bab,, babb..” (pakai jilbab…pakai jilbab)
Semoga nanti, kami bisa mendampingi Nayy untuk menjalankan Fitrah Seksualitas-nya dengan baik. Aamiin..InsyaAllah..

*Review Kelompok 2, Kuliah Bunda Sayang, IIP
*Fitrah Seksualitas Anak

0 komentar